Wednesday, July 26, 2017

Xiaomi Sudah Nomor Tiga di Indonesia? – Post Share Indonesia


w644 (6)


Pasar ponsel BM alias black market di Indonesia bisa disebut seusia yang sama dengan pertumbuhan awal industri ponsel dengan sistem open market, yang dimulai pada era ‘90-an. Meski mungkin menguntungkan konsumen karena harganya lebih murah, keberadaan ponsel BM jelas merugikan vendor resmi dan juga negara yang tak memperoleh pendapatan dari pajak.


Sayangnya, meski pemerintah sudah mengeluarkan banyak peraturan dalam hal importasi, bahkan mewajibkan TKDN 30% kepada seluruh vendor, peredaran ponsel BM untuk produk yang hits, ditengarai bukan malah menurun namun justru meningkat.


Di berbagai pusat perbelanjaan ponsel di Jakarta, pedagang malah tak malu-malu menawarkan smartphone yang bukan berasal dari vendor resmi. Terutama Xiaomi, brand asal China yang sejak empat tahun terakhir, menjadi primadona ponsel BM.


Bayangkan, dengan dana promosi yang minim, Xiaomi sukses menjual jutaan smartphone setiap tahun di Indonesia. Spesifikasi yang diklaim setara smartphone kelas atas seperti iPhone, namun dengan harga lebih terjangkau, mampu membius konsumen.


Dengan hanya mengandalkan promosi di media sosial dan komunitas, Xiaomi sukses membangun persepsi positif di benak konsumen. Model getok tular ini membuat popularitas Xiaomi mampu mengalahkan vendor-vendor lain yang rela mengeluarkan dana jumbo untuk berpromosi demi membangun brand.


Sebenarnya pada Februari 2017, Xiaomi sudah membuktikan komitmennya dalam mematuhi TKDN. Agar bisa menjual ponselnya di Indonesia, Xiaomi berupaya memenuhi 20% TKDN untuk produk yang mereka luncurkan, yakni Redmi 4A.


Xiaomi menggandeng manufaktur lokal antara lain Erajaya, PT Sat Nusapersada, dan TSM (Tata Sarana Mandiri) Technologies. Pabrik yang berlokasi di Batam mempunyai kapasitas produksi maksimum sebesar 100.000 unit per bulan yang didorong oleh tiga production line.


Meski sudah memasarkan produk resmi, faktanya smartphone Xiaomi dari jalur ilegal masih mendominasi pasar. Penelusuran Selular di pusat perbelanjaan ponsel terkemuka di Jakarta, menunjukkan dari 10 unit Xiaomi yang terjual, kebanyakan yang dipilih pembeli adalah garansi distributor. Perbandingananya mencapai sembilan banding satu (9:1).


Persoalan harga memang menjadi kelebihan Xiaomi BM dibandingkan produk resmi. Perbedaannya bisa mencapai Rp 200.000 – Rp 300 ribu. Hal ini membuat konsumen rela membeli Xiaomi BM meski hanya mendapatkan garansi distributor, bukan garansi resmi.


Padahal garansi distributor tak ada penggantian produk atau spare part. Bila rusak, hanya diarahkan ke service center biasa yang menjadi rekanan.


Tak ayal, maraknya peredaran Xiaomi yang berasal dari pasar gelap, membuat posisi Xiaomi saat ini semakin kuat. Sejumlah eksekutif dari vendor lain, malah memprediksi posisi Xiaomi setidaknya sudah berada di posisi tiga besar.


“Dengan tingginya permintaan dan produk yang terus tersedia di pasar, market share Xiaomi saat ini mungkin sudah di kisaran 9%-10%. Artinya, dengan market share sebanyak itu, posisi Xiaomi sesungguhnya sudah berada di peringkat ketiga”, ungkap sang sumber.


Mengacu pada data resmi seperti yang dikeluarkan IDC, total penjualan ponsel di Indonesia pada kuartal pertama 2017 mencapai 7,3 juta unit.


Angka penjualan itu tumbuh sebesar 13 persen dari tahun ke tahun, tapi menurun 15 persen dari kuartal ke kuartal. Untuk posisi lima produsen ponsel pintar teratas di Indonesia, IDC mengungkapkan secara berurutan adalah Samsung, Oppo, Asus, Advan, dan Lenovo-Motorola.


Posisi Xiaomi yang diprediksi sudah “menyodok” posisi tiga, tentu saja tak dapat dibuktikan. Karena penjualan Xiaomi, lebih banyak yang tidak tercatat.


Bagaimana sikap pemerintah?



loading…


Source link


قالب وردپرس


Xiaomi Sudah Nomor Tiga di Indonesia? – Post Share Indonesia
4/ 5
Oleh