Saturday, August 5, 2017

Masih Perlu Bukti Bahwa Vaksin Itu Aman? Ini Buktinya



Vaksin telah lama ditemukan, namun hingga kini masih banyak pihak yang ragu memberikan vaksin kepada anaknya. Mereka masih meragukan keamanan vaksin, karena banyak kesalahpahaman yang beredar di masyarakat. Ada yang menganggap bahwa meskipun sudah diberikan vaksin, anak tetap bisa sakit. Atau, ada juga yang menganggap bahwa vaksin justru membahayakan si kecil. Tapi, apa iya?


Vaksin adalah bahan antigenik yang digunakan untuk menghasilkan kekebalan aktif terhadap suatu penyakit. Pemberian vaksin dimaksudkan untuk mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi penyebab penyakit.


Bagaimana cara kerja vaksin untuk mencegah penyakit?


Vaksin bekerja dengan melatih sistem kekebalan tubuh untuk mengenali dan memerangi patogen, baik virus atau bakteri. Untuk melakukan ini, molekul tertentu dari patogen harus dimasukkan ke dalam tubuh untuk memicu respon kekebalan, yang disebut dengan antigen.


Dengan menyuntikkan antigen ke dalam tubuh melalui vaksinasi, maka sistem kekebalan tubuh dapat mengenali patogen penyebab penyakit dengan menghasilkan antibodi. Antibodi tersebutlah yang akan melawan patogen sebelum menyebar dan menyebabkan penyakit. Antibodi tersebut juga yang nantinya akan mengenali patogen penyakit tersebut, jika di kemudian hari muncul kembali.


Kenapa ada orang tua yang menolak pemberian vaksin untuk anak?


Studi yang diterbitkan dalam BioMed Central tahun 2013 menemukan beberapa alasan mengapa beberapa orang tua menolak memberikan vaksin untuk anak mereka. Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa keputusan tersebut didasarkan pada beberapa faktor, seperti gaya hidup orang tua, persepsi tentang tubuh dan sistem kekebalan tubuh anak, persepsi risiko penyakit dan efek samping vaksinasi, efektivitas vaksin yang dirasakan, keuntungan dari vaksinasi, pengalaman negatif setelah vaksinasi, dan lingkungan sosial orang tua.


Sudah vaksin, tapi kok masih bisa sakit?


Vaksinasi memang tidak dapat 100 persen melindungi anak Anda dari penyakit. Namun, anak yang telah diberikan vaksin memiliki kekebalan yang lebih optimal terhadap suatu penyakit.


Sebenarnya, ada beberapa faktor yang menyebabkan pemberian vaksin kurang efektif dalam mencegah sakit, yaitu kelengkapan status imunisasi, gaya hidup, asupan nutrisi, dan kondisi vaksin yang diberikan. Anak yang sudah diberikan vaksin memang tetap dapat terinfeksi suatu penyakit, tetapi gejala yang dialami cenderung jauh lebih ringan dibandingkan dengan anak yang tidak diberikan vaksin.


Benarkah vaksin mengandung babi?


Vaksin tidak mengandung babi. Informasi ini didapatkan melalui situs idai.or.id. Melalui situs tersebut juga diketahui bahwa meskipun pada pembuatan vaksin polio, enzim tripsin babi digunakan; namun tidak semua vaksin membutuhkannya. Enzim tersebut nantinya juga akan dibersihkan atau dihilangkan agar tidak mengganggu tahapan proses produksi vaksin selanjutnya.


Enzim tripsin babi hanya diperlukan sebagai katalisator untuk memecah protein menjadi peptida dan asam amino yang menjadi bahan makanan kuman. Namun pada hasil akhir proses pembuatan vaksin, sama sekali tidak terdapat bahan-bahan yang mengandung enzim tersebut. Bahkan, antigen vaksin ini sama sekali tidak bersinggungan dengan enzim tripsin babi baik secara langsung maupun tidak.


Apa buktinya bahwa vaksin itu aman untuk digunakan?


Sebuah studi menyebutkan bahwa untuk setiap vaksin yang disetujui, manfaat penggunaannya lebih besar daripada risikonya. Biasanya, efek samping yang terjadi berupa demam beberapa hari setelah vaksin, dan dapat hilang setelah diobati.


Berikut adalah beberapa bukti bahwa vaksin aman digunakan dan telah efektif dalam mencegah penyakit menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dalam livescience.com:



  • Selama dua dekade terakhir, vaksin masa kanak-kanak telah menyelamatkan nyawa 732.000 anak A.S. dan mencegah lebih dari 300 juta anak-anak sakit.

  • 90 persen efek samping penggunaan vaksin tidak membahayakan dan sangat jarang terjadi.

  • Lebih dari 20 penelitian ilmiah telah menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara vaksin MMR dan autisme.

  • Laporan 2011 dari National Academy of Medicine mengulas lebih dari 1.000 studi vaksin dan menyimpulkan bahwa reaksi serius terhadap vaksin sangat jarang terjadi.

  • Sebuah penelitian di tahun 2011 menemukan bahwa vaksin rotavirus telah mencegah 65.000 anak di Amerika Serikat untuk tidak dirawat di rumah sakit dengan rotavirus sejak 2006.

  • Vaksin HPV diperkenalkan pada tahun 2006, dan selama empat tahun setelahnya, tingkat infeksi HPV di kalangan remaja putri menurun sebesar 56 persen, meskipun tingkat vaksinasi relatif rendah pada kelompok usia remaja.

  • Setelah diperkenalkannya vaksin cacar air, kasus cacar air turun hampir 80 persen di Amerika Serikat setelah lebih dari satu dekade.

  • Vaksin telah berhasil mengeliminasi wabah polio dan smallpox.


Baca Juga:



Source link


قالب وردپرس


Masih Perlu Bukti Bahwa Vaksin Itu Aman? Ini Buktinya
4/ 5
Oleh